Perhatikan kelembaban dan kekeringan sekitar di musim dingin.

Uz, mengingatkan bahwa dengan datangnya bulan-bulan musim dingin, keluhan pernafasan dan akibatnya insiden infeksi semakin meningkat. Dr. Bright mengaitkan peningkatan penyakit dengan menghabiskan lebih banyak waktu di dalam ruangan sesuai musim. Menyatakan bahwa suhu lingkungan harus antara 20-22 derajat di dalam ruangan, Uz. Dr. Parlak mengatakan, “Kelembaban yang ideal adalah kelembapan 40-50 persen. Lingkungan dengan kelembapan yang rendah merupakan lingkungan yang ideal bagi virus dan bakteri, dan kelembapan yang tinggi memberikan lingkungan yang ideal bagi tungau dan jamur untuk berkembang biak,” kata Parlak.

PENCUCIAN PENGERINGAN DI KAMAR LUAR BIASA

Menunjukkan bahwa ruangan harus sering berventilasi dan cucian tidak boleh dikeringkan di ruang tamu atau kamar tidur untuk mengurangi tekanan infeksi, Uz. Dr. Parlak berkata, "Penggunaan kompor atau pemanas listrik di musim dingin mengurangi tingkat kelembaban. Meskipun kekeringan merupakan faktor negatif yang mempengaruhi bahkan orang yang sehat, ini lebih efektif pada pasien dengan keluhan pernafasan. Karena udara kering menyebabkan mukosa mengering dan mempersempit saluran pernafasan. “Penurunan suhu juga memicu penderita asma. Mengeringkan pakaian di dalam ruangan tidak hanya meningkatkan kelembapan dan menurunkan suhu ruangan. Selain itu, bau deterjen pada cucian basah bisa memicu asma,” ucapnya.

HUMIDIFIER KAMAR HARUS DIGUNAKAN, KAMAR HARUS DIVENTILASI

Uz, menyatakan bahwa pelembab ruangan adalah pilihan yang baik untuk mencegah udara kering, meskipun tidak memberikan hasil yang terjamin. Dr. Bright, "Selain itu, perhatian harus diberikan pada seringnya ventilasi kamar. Namun, waktu ventilasi harus dijaga agar tetap pendek pada jam-jam ketika polusi udara sangat intens," katanya.